News Update :
Home » , , » Kisah Yerusalem Sebagai Kota Paling Berpengaruh di Dunia

Kisah Yerusalem Sebagai Kota Paling Berpengaruh di Dunia

Penulis : Andi Aryatno on Jumat, 27 Juli 2012 | 11.00

 Yerusalem adalah sebuah kota universal. Selama berabad-abad, ia menjadi pusat dunia. Kota di tengah perbukitan Yudea itu sejak dulu menjadi pusat pertarungan bangsa-bangsa, bahkan antara tiga agama yang dikembangkan keturunan Nabi Ibrahim. Kota itu menjadi panggung gemerlap kamera dunia dalam abad berita 24 jam. Kepentingan keagamaan, politik, dan media pun saling menyuapi demi memagut kota itu.

Lebih dari itu, Yerusalem adalah kota suci, tapi ia selalu menjadi sarang takhayul dan kefanatikan. Ia menjadi dambaan dan sasaran rebutan aneka kekaisaran, walau tak punya nilai strategis. Kota itu menjadi rumah kosmopolitan banyak sekte dan masing-masing masih yakin bahwa kota itu hanya milik mereka. Sebuah kota dengan banyak nama dan tradisi, tapi masing-masing tradisi begitu sektarian, sehingga mereka menihilkan pihak lain.

Dari semua tempat di dunia, mengapa Yerusalem? Kota itu, sekali lagi, adalah kota universal. Para nabi --Ibrahim, Daud, Isa, dan Muhammad-- telah menjejakkan kakinya di bebatuan kota itu. Sejak masa Nabi Daud hingga Presiden Barack Obama, sejak lahirnya agama Yahudi, Kristen, dan Islam, hingga konflik Israel-Palestina, Yerusalem telah melahirkan aneka kisah kepahlawan dari sudut pandang yang beragam pula.

Begitulah penulis sekaligus sejarawan Inggris, Simon Sebag Montefiore, menggambarkan betapa pentingnya pengaruh Yerusalem bagi sebagian besar umat manusia. Menurut catatannya yang tertuang dalam buku Jerusalem: The Biography, jauh sebelum Nabi Daud merebut Benteng Zion, kawasan itu sudah berpenghuni. Konon, kawasan yang punya banyak nama itu dihuni manusia sejak tahun 5000 sebelum Masehi (SM).

Riwayat kota yang juga berjuluk Al-Quds itu terputus selama berabad-abad. Dalam kisah nabi-nabi diungkapkan bahwa Nabi Ibrahim pernah bermukim di sana bersama istrinya, Siti Sarah, yang melahirkan Nabi Ishak ketika usianya sudah sangat tua. Periode kehidupan “Bapak Para Nabi” itu diperkirakan dari 1997 SM hingga 1822 SM. Dari keturunan Nabi Ishak inilah kemudian lahir bangsa Israel.

Di Bawah Kekuasaan Dua Nabi
Yerusalem menjadi wilayah di bawah perlindungan Mesir setelah menaklukkan Palestina pada 1458 SM. Pada 1350 SM, pembesar yang berkuasa di Yerusalem, Abdi-Hepa, meminta perlindungan kepada Akhenaten, Firaun dari kerajaan baru Mesir. Ia membutuhkan bantuan untuk menyelamatkan kerajaan kecilnya dari agresi raja-raja tetangga dan gerombolan pengacau yang sering merampok.

Abdi-Hepa adalah pembesar yang miskin. Ia berada dalam sebuah dunia yang di bagian selatan didominasi orang Mesir, di bagian utara oleh orang Hatti (Suriah), dan di barat laut oleh orang Yunani Mycenea yang akan berperang dalam Perang Troya. Apa pun yang terjadi pada raja yang terpojok itu, baru seabad kemudian orang-orang Yerusalem membangun teras-teras yang menjulang di atas mata air Gihon di Bukit Ophel. Teras-teras itu masih ada hingga kini. Tapi dunia Mediterania lama ini dihancurkan gelombang pendatang yang disebut Orang-orang Laut yang datang dari Laut Aegea.

Yerusalem di masa Nabi Daud adalah Yerusalem yang mungil. Pada masa itu, kota Babylon di wilayah Irak saat ini mencakup wilayah seluas 2.500 hektare. Bahkan luas kota terdekatnya, Hazor, mencapai 200 hektare. Yerusalem mungkin tidak lebih dari 15 hektare, hanya cukup untuk menampung sekitar 1.200 orang di sekitar benteng. Tapi penemuan mutakhir benteng-benteng di atas mata air Gihon membuktikan bahwa Zion di bawah Daud jauh lebih substansial ketimbang yang pernah diduga sebelumnya.

Setelah melewati karier luar biasa, menyatukan Bani Israel dan mengukuhkan Yerusalem sebagai kota Tuhan, Daud mangkat. Sebelumnya, ia sempat menyuruh Sulaiman membangun kuil di Bukit Moriah. Ia dimakamkan di kota Daud. Putranya yang sangat karismatik, Nabi Sulaiman, yang memulai kekuasaan pada 970 SM, menyelesaikan misi suci itu: membangun Bait Suci yang kelak dijuluki Bait Sulaiman.

Sulaiman berkuasa selama lebih-kurang 40 tahun. Setelah dia, Bani Israel kembali pecah antara Rehobeam, anak Sulaiman, dan Yerobeam, sang jenderal dari wilayah utara. Di bawah kekuasaan keturunan Daud dan Sulaiman, Yerusalem menjadi ibu kota Kerajaan Yehuda. Sementara itu, 10 suku utara, sejak perlawanan Yerobeam, membentuk Kerajaan Israel.

Tenteram di Bawah Kekuasaan Islam
Bait Suci mengalami kehancuran ketika Raja Babylonia, Nebukadnezar, menyerbu Yerusalem. Menurut kronik Nebukadnezar yang tersimpan dalam sebuah prasasti tanah liat, raja itu mengepung Yerusalem dan pada hari kedua bulan Adar (16 Maret 697 SM) merebut kota itu serta menangkap Raja Israel. Nebukadnezar menjarah Kuil Suci dan membuang raja beserta 10.000 bangsawan, perajin, dan para pemuda Israel ke Babylonia. Konon, pada saat itulah Tabut Perjanjian lenyap untuk selamanya.

Dalam catatan sejarah, Yerusalem sempat jatuh ke tangan bangsa Persia dan di masa itu bangsa Israel kembali ke kota tersebut. Pada masa kekuasaan Iskandar Agung yang berhasil menaklukkan Babylonia, bangsa ini mendapatkan kembali hak-hak mereka untuk hidup dengan hukum mereka sendiri. Sayangnya, sepeninggal Iskandar Agung, kota itu kembali jadi ajang perebutan raja-raja berbagai dinasti, termasuk di bawah kekuasaan Romawi selama puluhan tahun.

Yerusalem selama belasan abad berada di bawah kekuasaan kerajaan-kerajaan Islam. Kota itu jatuh ke tangan kaum muslim saat Khalifah Umar bin Khatab memegang tampuk kepemimpinan. Di masa Umar ini, kaum Yahudi merasa terlindungi. Khalifah Umar tidak hanya mengundang mereka memelihara Kuil Suci, melainkan juga membolehkan mereka berdoa di sana. Lebih jauh, Khalifah Umar pun mengundang komunitas Yahudi Tiberia kembali ke Yerusalem bersama 70 keluarga Yahudi lainnya.

Suasana kebebasan yang dinikmati kaum Yahudi ini terus bertahan, dari masa kekuasaan Umayyah, Abbasiyah, hingga masa kekuasaan Fatimiyah. Saat Muawiyyah memerintah Yerusalem, ia mengagungkan kota itu. Ia memukimkan lebih banyak orang Yahudi di kota itu, bahkan merestorasi kuil-kuil mereka. Toleransi yang tinggi juga diperlihatkan para khalifah dari Bani Abbas (Abbasiyah) dan Bani Fatimah (Fatimiyah).

Masa Kegelapan Sejak Dinasti Mamluk
Yerusalem sempat mengalami masa kegelapan selama penyerbuan tentara Frank yang dimulai sejak 1099. Kondisi seperti di masa kekuasaan Bani Umayyah baru dirasakan kembali setelah Yerusalem direbut Sultan Saladin. Masa kekuasaan sultan dari Bani Ayyub (Ayyubiyah) inilah yang tercatat sebagai periode investasi besar. Umat Yahudi dan muslim kembali hidup berdampingan secara damai.

Yerusalem kembali ke masa kegelapan selama lebih dari dua setengah abad di bawah kekuasaan Dinasti Mamluk, yang asalnya adalah tentara budak. Banyak pertentangan terjadi selama dinasti itu berkuasa, baik melawan tentara Salib maupun tentara Mongol. Tamatnya riwayat kekuasaan Mamluk di Yerusalem diawali dengan persekutuan pragmatisnya dengan Dinasti Ottoman dari Turki. Dinasti terakhir inilah yang menjadi penguasa kota suci itu sejak 1517 hingga dikuasai Inggris pada 1922 lewat Konferensi Lausanne.

Di bawah pendudukan Inggris, berlangsung migrasi besar-besaran warga Yahudi ke Yerusalem. Tercatat, dalam kurun 1922-1948, penduduk kota Yerusalem meningkat tiga kali lipat: dari sekitar 52.000 menjadi hampir 165.000 orang. Komposisinya, 100.000 lebih warga Yahudi, 34.000 muslim, dan sekitar 30.000 Kristen. Trio pemimpin Yahudi --Ben-Gurion, Menachem Begin, dan Lehi-- pernah mengoordinasi perjuangan melawan Inggris. Tapi, belakangan, Inggris menjadi pendukung utama gerakan mereka bersama Amerika Serikat.

Selama 1.000 tahun, Yerusalem secara eksklusif dikuasai umat Yahudi. Sekitar 400 tahun kota itu dikuasai umat Kristen dan selama 1.300 tahun oleh umat Islam. Tapi, sejarah mencatat pula, tak satu pun dari umat ketiga agama itu pernah mendapatkan Yerusalem tanpa pedang.

Kedekatan Sejarah dengan Mekkah
Bagi umat Islam, Yerusalem memiliki kedekatan kesejarahan dengan kota suci lainnya: Mekkah. Masjid Al-Aqsha yang ada di kota itu pernah menjadi kiblat pertama sebelum beralih ke Kabah di tengah Masjid Al-Haram di Mekkah. Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW pun melalui kota itu sebelum naik ke Sidrat Al-Muntaha.

Jauh sebelum itu, kedekatan kesejarahan juga terjalin lewat Nabi Ibrahim. “Bapak Para Nabi” ini bolak-balik dari Yerusalem ke Mekkah karena di kota itulah ia meninggalkan istri keduanya, Siti Hajar, bersama putranya yang juga berstatus nabi: Ismail. Ibu dan anak inilah yang disebut-sebut sebagai penduduk pertama Mekkah. Keturunan Nabi Ismail kemudian melahirkan bangsa Arab. Kota ini pun memberi pengaruh besar pada umat, terutama bagi sekitar 1,6 milyar penduduk dunia yang beragama Islam.

Menurut catatan statistik, rata-rata setiap tahun sekitar 1,75 juta warga muslim dari berbagai belahan dunia datang ke kota itu untuk menunaikan ibadah haji. Belum lagi mereka yang datang untuk beribadah umrah. Terkabar, tak kurang dari lima juta umat per bulan singgah di Mekkah untuk melakukan umrah. Secara ekonomis, kota
itu berada di negeri terkaya dengan bahan bakar minyak. Di luar itu, harus diakui, Mekkah melahirkan peradaban muslim yang bertahan selama berabad-abad.

Tidak hanya itu. Posisi sentral Mekkah pun dibuktikan secara ilmiah oleh Dr. Husain Kamaluddin, ilmuwan modern muslim asal Mesir. Lewat penelitiannya yang rumit dan panjang pada 1970-an, ia berhasil membuktikan bahwa Mekkah merupakan pusat bagi seluruh benua yang ada di bumi. Dalam riset itu, ia melukiskan peta dunia baru yang dapat menunjukkan arah Mekkah dari kota-kota lain di dunia. Dengan menggunakan perkiraan matematik dan kaidah yang disebut spherical triangle, Husain menyimpulkan, posisi Mekkah betul-betul berada di tengah-tengah daratan bumi.

Adalah Abdul Aziz ibnu Saud yang paling berjasa memodernisasi kota itu bersama kota-kota lain yang ada di Arab Saudi. Dia boleh dibilang pendiri kerajaan itu sekaligus raja pertamanya sejak 1932. Wajah kota Mekkah pun berubah cepat sejak minyak bumi ditemukan di perut bumi Saudi pada 1938. Perluasan demi perluasan dilakukan di sekitar Masjid Al-Haram. Yang mutakhir, di kota itu dibangun menara “jam gadang” yang amat megah, yang diharapkan menjadi patokan waktu bagi muslim di seluruh dunia.

Tempat Bersemai Pemikiran Bebas
Bila Yerusalem dan Mekkah memberi pengaruh besar secara spiritual pada dunia, ada empat kota lain yang berpengaruh besar pada peradaban. Sebut saja Athena, kota yang disebut para sejarawan sebagai tempat kelahiran peradaban Barat. Mulai dibangun Theseus dari gabungan desa-desa kecil, kota ini mencapai masa kegemilangan selama hampir satu abad. Dalam masa itu, seni dan filsafat berkembang pesat, sebagai tempat bersemainya bibit pemikiran bebas dan demokrasi.

Pengaruh intelektual Athena sungguh amat besar. Dengan mengajukan dan mengejar pertanyaan-pertanyaan kritis, para filsuf berhasil menciptakan tradisi intelektual yang sangat dinamis. Dimulai dari Thales yang mendobrak pemikiran yang mendasarkan diri pada mitos, hingga lahirnya para pemikir besar seperti Sokrates, Plato, dan Aristoteles. Dari tradisi yang hidup di kota itulah, umat manusia mengenal penalaran dan demokrasi.

Menurut catatan sejarawan Lewis Mumford, seperti dikutip Douglas Wilson, keterlibatan dalam bidang seni menjadi bagian dari aktivitas warga yang sama besarnya seperti dalam pelayanan di konsul atau persidangan. Selama 100 tahun kekaisaran, 2.000 pementasan drama dengan kualitas pilihan ditulis dan dipentaskan di Athena. Selain itu, 6.000 komposisi musik baru diciptakan dan ditampilkan.

Kemegahan serupa dilukiskan sejarawan Donald Kagan. Menurut dia, masa itu adalah sebuah masa prestasi kultural yang luar biasa. Boleh jadi, prestasi itu tak tertandingi dalam hal orisinalitas dan produktivitas sepanjang sejarah manusia. Para penyair mengangkat tragedi dan komedi ke tingkat yang belum pernah terlampaui. Para arsitek dan pemahat menciptakan bangunan-bangunan yang begitu kuat mempengaruhi seni di Barat. Masa itu adalah masa perkembangan, kemakmuran, dan kepercayaan diri yang luar biasa.

Tapi masa kejayaan itu seakan berakhir seiring dengan peperangan melawan Sparta. Kejayaan yang diraihnya beralih ke Roma yang memasuki periode republik. Walaupun sudah beralih ke Roma, Athena tetap mendapat tempat terhormat dalam hal budaya. Bangsa Romawi menghargai apa yang ada di Yunani sambil mengakuinya sebagai milik mereka juga.

Baghdad Jembatan di Zaman Kegelapan
Salah satu warisan dan memberi pengaruh besar yang ditinggalkan Roma adalah statusnya sebagai kota hukum dan keadilan. Aturan-aturan hukum dan keadilan menjadi karakteristik kota itu. Lalu ada Coloseum yang menjadi salah satu simbol masa-masa gemilang yang dicapai kota itu. Dengan daya tampung hingga 50.000 orang, Coloseum menjadi tempat berlangsungnya berbagai acara.

Di masa kejayaannya, Roma menerapkan penegakan hukum yang hampir merata. Kota itu melaksanakan hukum yang keras sambil tetap mempertimbangkan keadilan. Penegakan hukum dan prinsip-prinsip keadilan yang dianutnya pun menjadi rujukan dasar yang dikembangkan di kemudian hari, setelah umat manusia memasuki era modern sekalipun. Sayangnya, masa kejayaan seni, filsafat, dan ilmu pengetahuan pengaruh Yunani itu memudar sejalan dengan keruntuhan pelan-pelan Imperium Romawi.

Keruntuhan itu ditandai dengan pemisahan Romawi Timur dan Barat. Jejak-jejak seni, filsafat, dan ilmu pengetahuan dari zaman Yunani klasik pelan-pelan menguap. Literatur yang dianggap “sesat” diberangus dan dimusnahkan. Periode memudarnya bidang-bidang itulah yang jadi bagian era yang disebut zaman kegelapan alias dark ages yang berlangsung hingga sekitar abad ke-15.

Beruntung, di tengah-tengah masa yang disebut zaman kegelapan itu, pemimpin muslim justru bergerak menyelamatkan beragam peninggalan tertulis yang berkaitan dengan seni, sastra, dan filsafat tradisi Yunani. Tidak sekadar menyelamatkan, para cendekiawannya juga menerjemahkan karya-karya besar para seniman dan pakar dari zaman Yunani-Romawi. Dalam periode inilah, Baghdad berperan sebagai jembatan peradaban Barat dari era Yunani klasik ke era modern.

Berawal dari kemenangan demi kemenangan yang dicapai pada masa kekuasan Dinasti Abbasiyah. Dimulai dari pemindahan ibu kota dari Damaskus ke Baghdad pada tahun 762. Sebelumnya, kota itu baru berupa perkampungan kecil. Dengan mengerahkan lebih dari 100.000 pekerja, kota yang dalam bahasa Persia berarti “Pemberian Tuhan” itu pun dibangun.

Di tengah-tengah kota itu, dibangun ‘’Istana Emas’’ yang berdampingan dengan Masjid Jami Al-Mansur. Tradisi keilmuan di Baghdad memang berembus dari istana. Kalangan Istana, terutama khalifah, amat bersimpati pada aliran pemikiran Muktazillah yang baru berkembang dan dipelopori Abu Hudzaifah Washil bin Atha al-Ghazali. Aliran ini membuka peluang sebesar-besarnya pada akal manusia dan menjadikan skeptisisme sebagai dasar sikap untuk memahami segala hal.

Dasar-dasar rasionalisme seperti inilah yang sangat berpengaruh terhadap posisi Baghdad sebagai pusat ilmu pengetahuan dan kajian Islam selama lebih dari dua abad. Kemajuan di bidang kebudayaan dan ilmu pengetahuan di Bagdad jelas sekali tak lepas dari dukungan penuh kalangan istana. Pemerintah ketika itu menghidupkan tradisi diskusi agama, filsafat, dan ilmu pengetahuan di kalangan cendekiawan dan pujangga besarnya.

Pembangunan dan Penghancuran Bait al-Hikmah
Gerakan penerjemahan karya-karya ilmiah berbahasa Yunani, Persia, Suriah, bahkan bahasa India ke dalam bahasa Arab pun digalakkan. Khalifah yang berkuasa ketika itu, Harun Ar-Rasyid, khalifah kelima Abbasyiah yang memerintah selama 23 tahun (786-809), berhasil membangun lembaga ilmu pengetahuan yang disebut Bait al-Hikmah. Walau baru sebagai lembaga penerjemahan karya asing, Bait al-Hikmah memiliki arti sangat strategis dalam pengembangan ilmu pengetahuan.

Fungsi Bait al-Hikmah kemudian diperluas oleh penerus Harun Ar-Rasyid, Khalifah Al-Ma’mun (813-830 M). Lebih maju dari khalifah sebelumnya, Al-Ma’mun dengan tegas menjadikan Muktazillah sebagai ideologi dan paham keagamaan resmi negara. Selama 20 tahun memerintah, ia menjadikan lembaga itu sebagai perguruan tinggi. Di situ pula ia membangun perpustakaan besar, dengan koleksi bacaan sangat lengkap, dan pusat kajian ilmiah, lengkap dengan ruang-ruang tempat para pakar berdiskusi. Malah lembaga itu memiliki tempat khusus untuk mengobservasi bintang.

Langkah penting yang dilakukan Al-Ma’mun dalam pengembangan ilmu pengetahuan adalah mengirim utusan ke Roma. Dari Kaisar Leo Armenia, ia berusaha mendapatkan karya-karya ilmiah Yunani kuno untuk diterjemahkan. Pada tahap pertama, tim penerjemah yang dibentuknya mengalihbahasakan buku-buku di bidang pengobatan dan filsafat. Setelah itu, baru disiplin lain, seperti matematika, astronomi, fisika, dan geografi.

Kemauan baik pemerintahan di bawah Bani Abbas untuk memajukan pendidikan dan ilmu pengetahuan ini menyebabkan pemikiran filsafat, ilmu pengetahuan, dan agama berkembang pesat. Bukan itu saja, banyak orang dari berbagai negeri mengalir ke Baghdad untuk menuntut ilmu. Pakar dari berbagai kota memilih bermukim di Baghdad untuk mengkaji dan mengembangkan ilmu kedokteran, matematika, kimia, fisika, astronomi, filsafat, sastra, musik, dan ilmu-ilmu agama.

Dari masa itu, lahir banyak ilmuwan muslim yang terkenal sebagai penemu di banyak bidang keilmuan. Dari Al-Kindi yang memulai penyusunan ensklopedia ilmu pengetahuan hingga Al-Biruni, filsuf yang juga ahli matematika dan astronomi. Dari Ibnu Sina, Al-Ghazali, hingga Ibnu Rusyd, dan masih banyak lainnya, termasuk pakar sosiologi yang diakui di masa itu, Ibnu Khaldun.

Sayangnya, masa kejayaan ilmu pengetahuan, filsafat, dan pemikiran keagamaan di dunia Islam surut sejak pertengahan abad ke-14. Yakni sejak bangsa Mongol di bawah Hulaghu Khan dan Timur Leng menyerang, lalu melumatkan pusat-pusat dunia ilmu di Baghdad. Bahkan pemusnahan khazanah ilmu pengetahuan dan warisan peradaban klasik itu berulang di masa modern, yakni dalam serangan pasukan Sekutu pimpinan Amerika Serikat ke Baghdad pada April 2003.

Baru sebagian kecil peninggalan yang hilang selama invasi itu kembali ke tempatnya semula di Baghdad. Selebihnya entah menguap ke mana. Entah berapa abad lagi diperlukan untuk memperkaya kembali koleksi yang sangat tidak ternilai itu.

Oleh: Erwin Y. Salim

Sumber

Tahukah Kamu?
Jika lever manusia berhenti bekerja, manusia akan mati dalam 8 samapai 24 jam
Itulah berita untuk 'Kisah Yerusalem Sebagai Kota Paling Berpengaruh di Dunia', semoga bermanfaat dan bis menjadi inspirasi buat kamu.
Share this article :
 
Design Template by Mas Kentir | Support by creating website | Powered by Blogger