Kuburan alami memang sudah lumrah dan mudah ditemui di Toraja. Selain Buntu Pune, Ke’te’ Kesu’, dan Londa
yang sudah saya kunjungi sebelumnya, di Toraja masih ada Lemo yang juga
merupakan kuburan alami. Untuk menemukan Lemo juga tidak sulit. Papan
nama menuju Lemo dapat dengan mudah ditemukan di jalan poros
Rantepao-Makale. Objek wisata yang satu ini sudah cukup berkembang.
Banyak turis asing maupun lokal yang terlihat di Lemo. Hal ini terjadi
karena jalan menuju Lemo sudah bagus dan lokasinya tidak jauh dari jalan
utama.
Begitu memasuki area Lemo akan terlihat deretan beberapa toko souvenir.
Memang tidak banyak toko souvenir yang ada di Lemo, tapi souvenir yang
dijual cukup lengkap kok. Untuk masuk ke objek wisata ini harus membayar
tiket sebesar 5.000 untuk wisatawan lokal. Harga yang lebih mahal akan
dikenakan kepada turis asing. Menurut saya harga ini bukanlah harga yang
mahal untuk melihat keunikan Toraja. Iya nggak?


Meskipun sama-sama kuburan batu, antara Lemo dan Londa memiliki konsep yang cukup berbeda. Di Londa,
erong (peti-peti mati) diletakkan dengan cara digantung pada dinding
tebing. Tapi tidak sedikit juga erong yang diletakkan di dalam goa. Di
Lemo Anda tidak akan menemukan hal tersebut. Erong yang ada di Lemo
diletakkan dalam dinding tebing yang sudah dipahat. Jadi dinding bukit
atau tebing dipahat terlebih dahulu sebesar peti, barulah kemudian peti
dimasukkan ke dalam pahatan tersebut. Yang bikin terkagum-kagum adalah
bagaimana masyarakat Toraja memahat dinding tebing yang tinggi itu
sekaligus membuat pahatan yang begitu besar seukuran peti mati. Luar
biasaaa!! Masing-masing pahatan yang sudah diisi erong akan ditutup
dengan pintu yang terbuat dari kayu atau bambu. Ada pintu yang sudah
terlihat tua, namun ada juga yang masih cukup baru. Di sebuah pintu
terdapat salib yang bertuliskan 25-02-2009. Ini berarti ada mayat yang
baru dikuburkan disini selama tiga tahun. Secara keseluruhan ada lebih
dari 70 lubang pahatan yang ada di Lemo. Tapi yang pasti di Lemo tidak
ada kesan menyeramkan seperti halnya di Londa yang banyak tengkorak dan
tulang-belulang berserakan. Di Lemo peletakan erong lebih rapi karena
berada di dalam pahatan lubang tebing.
Hal lain yang membuat cantik Lemo adalah adanya deretan Tau-Tau yang
diletakkan dekat lubang-lubang pahatan tadi. Tau-Tau ini sebagai
manifestasi orang yang ada di dalam lubang yang telah meninggal. Namun
tidak semua orang bisa dibuatkan Tau-Tau. Hanya kalangan bangsawan saya
yang biasanya dibuatkan Tau-Tau mengingat uang yang dikeluarkan untuk
membuat Tau-Tau juga tidak sedikit. Di depan tebing ini juga ada
beberapa keranda mayat yang berbentuk tongkonan. Seperti biasanya, yang
menggunakan keranda berbentuk tongkonan biasanya juga merupakan kalangan
bangsawan saja. Selain melihat kuburan, di Lemo terdapat hamparan sawah
yang luas. Cukup asik juga lho pemandangannya.


Kalau sudah cukup puas melihat kuburan, silahkan membeli souvenir yang
dijual oleh pedagang-pedangan disana. Harganya cukup murah juga kok
dibandingkan dengan yang dijual di Pasar Rantepao. Jangan lupa juga
melihat tongkonan yang berusia tua tidak jauh dari parkiran. Sewaktu
saya melihat tongkonan tua ini ada seorang bapak-apak mendatangi saya.
Beliau mengatakan hari itu sedang ada pesta kematian di daerah yang saya
lupa namanya. Sudah menjadi hal umum jika ada orang yang mati di Toraja
akan dilakukan pesta kematian. Dalam pesta ini biasanya diadakan
pemotongan kerbau yang jumlahnya terkadang cukup fantastis, bisa puluhan
bahkan ratusan tergantung dari kekuatan finansial keluarga. Setelah
pesta berakhir barulah mayat bisa dikuburkan. Pesta kematian ini biasa
disebut Rambu Solo. Nah si bapak tadi menawarkan jasa mengantarkan saya
ke acara Rambu Solo jika saya mau. Jujur saya sangat tertarik dengan
ajakan bapak tadi. Sayang waktunya sudah agak sore, sedangkan saya juga
tidak ada rencana menginap di Toraja. Ditambah lagi lokasi Rambu Solo
berada di daerah yang cukup terpencil dan jauh dari Rantepao membuat
kemungkinan untuk melihat acara tersebut semakin kecil. Dengan berat
hati saya menolak tawaran si bapak tadi sambil kemudian melanjutkan
jalan-jalan saya keliling Toraja ke objek wisata berikutnya.
Sumber