News Update :
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Cerpen Hari Ini : Di Sebuah Sudut

Penulis : Unknown on Jumat, 04 Mei 2012 | 17.34

Jumat, 04 Mei 2012

panasnya matahari
membakar telapak kaki
siang itu di sebuah terminal
yang tak rapi..

Aku melompat turun dari sebuah Metromini yang terus melaju perlahan ke dalam area terminal. Matahari sedang diskon hingga 70 persen, panasnya membakar ubun-ubun, menambah pusing kepalaku, karena lapar. Sejak kemarin sore, aku belum lagi makan.

wajah berjalan kaki
kusut mengutuk hari
jari-jari kondektur
genit gonta-ganti..


Orang-orang lalu lalang di antara Metromini, Kopaja, bus-bus hingga Transjakarta. Kendaraan-kendaraan menebar asap dari pantat knalpotnya yang berjelaga. Panas semakin menyengat, berbaur dengan keringat, mata-mata terpicing melihat nomor-nomor angkutan dan rute tujuan. Aspal semakin legam, mengkilat, meleleh, membuat lekat.

Tangis bocah dalam gendongan ibunya yang haus minta susu. Rengek anak kecil meminta permen atau minuman kemasan aneka warna yang dijajakan pedagang asongan yang bersliweran. Teriakan kondektur-kondektur memanggil penumpang atau sekedar pengumuman, tujuan akhir, pun awal telah sampai. Udara menguap bersama asap dari kompor tukang gorengan, bergandengan dengan asap rokok, asap knalpot bahkan sepertinya kepalaku mulai berasap.

dari sebelah warung
sebelah WC umum
irama melayu terdengar
akrab mengalun..


Aku melangkahkan kaki ke arah toilet umum di dekat sebuah taman. Taman? itu hanya sepetak lahan yang dipagar pemerintah kota, tak terurus, seperti sekedar pemberi jeda. Namun paling tidak, taman ini sedikit memberi kedamaian di antara hiruk pikuknya terminal. Beberapa pohon angsana, membesar, menjulang dan daun-daunnya yang lebat, memayungi taman dari hantaman sinar matahari atau sekedar rintik gerimis.

Masuk ke dalam salah satu biliknya, menuntaskan hajat. Puas mengosongkan kandung kemih, aku hanya menepukkan lipatan koran yang sejak tadi kupegang kepada si penjaga, yang sejak awal aku masuk ke toilet ini, dia seketika berhenti mengikuti Pak Haji si Raja dangdut bernyanyi. Mulutnya yang sudah dower dan hitam, semakin terlihat hendak jatuh, saat mencibir ke arahku yang menyeringai dan terus saja berlalu.

bocah kurus tak berbaju
yang tak kenal bapaknya
tajam matamu
liar mencari mangsa..


Aku melompati pagar taman. Duduk di bangku batu yang warna catnya sudah menghilang. Entah itu awalnya warna apa mungkin merah, biru atau kuning. Ah, warna-warna untuk fasilitas umum di negeri ini, selalu identik dengan warna partai-partai yang sedang berkuasa.

Beberapa bocah pengamen berlarian, berkejaran, bercanda di dalam taman. Ada yang duduk diam bersandar pada batang pohon angsana, sibuk ngelem dan terbang menjelajahi negeri impian.

ramai para pedagang
datang tawarkan barang
ratap pengemis bak meriam
dalam perang..


Di tengah taman, dekat air mancur yang sudah lama almarhum, beberapa pedagang asongan menyusun barang dagangannya. Koran-koran yang disusun ulang. Minuman-minuman yang ditukar posisi. Buah-buah yang diatur rapi ke dalam kotak-kotak kardus sebelum kembali berjibaku ke tengah terminal yang berdebu.

Di sudut dekat sebuah tiang lampu yang tutupnya telah pecah, seorang pria tua, meluruskan kaki yang telah beberapa jam sebelumnya dia tekuk dan sembunyikan ke dalam celana panjangnya. Disebelahnya tergeletak sebuah tongkat untuk melengkapi sandiwaranya.

Sebatang rokok terselip di bibirnya. jemarinya menyusun lembaran-lembaran uang. Tak berapa jauh darinya, seorang gadis kecil, membalik gitar kecilnya, menumpahkan beberapa lembar dan logam yang kini berceceran di tanah di depannya, lalu tangan dan mulut mungilnya, sibuk memunguti dan berhitung.

Aku memandang mereka, lantas tersenyum sendiri dan merogoh saku belakang celanaku. Membuka sebuah dompet, menilik isinya. Kartu tanda penduduk, kartu tarik tunai, kartu nama, kartu pelanggan sebuah toko serba ada, foto seorang pria, foto lagi, kali ini, seorang pria yang berdiri memeluk pinggang si wanita dari belakang dan struk-struk belanja.

Aku mendongak, memandang berkeliling. Ini sudah lewat tengah hari, perutku sudah teriak minta diisi. Aku merobek-robek semua benda-benda tak berharga tadi, menarik semua lembaran uang yang ada. Mengantonginya ke dalam saku, dan melempar dompet berwarna merah muda itu ke tong sampah sambil berlalu. Itu pun bila masih pantas disebut tong sampah.

*****
Tercetak miring adalah syair lagu Terminal oleh Iwan Fals & Franky Sahilatua
Sumber Gambar : Ketika Lampu Merah Menyala oleh Teguh Santosa
Kompasiana oleh Nathalia

Tahukah Kamu?
Tanda ‘save’ pada Microsoft Office programs menunjukan gambar floppy disk dengan shutter terbalik

komentar | | Read More...

Cerpen : Partai Nasgor, Kami Bisa!

Penulis : Unknown on Kamis, 03 Mei 2012 | 17.12

Kamis, 03 Mei 2012

Parmin, sarjana ilmu politik lulusan universitas negeri ternama, pernah bercita-cita ingin jadi Presiden, kini tertunduk lesu! Tidak satupun lamarannya diterima perusahaan! Alasannya sangat simpel, karena Parmin melamar untuk posisi pengawas bangunan!

Setelah memutar otak dan memeras fikiran, akhirnya Parmin memutuskan untuk meniti karir sebagai wiraswastawan, penjual nasi goreng keliling. Awalnya ia tidak terlalu yakin dengan profesi barunya itu, tetapi Bunda Tukiyem, ibu semata wayangnya itu terus memompa motivasi Parmin hingga melambung tinggi melebihi ramalan seorang analis pasar modal.

“Yakusa Parmin, Yakusa…!!”

“Haaahhhh?!!! Yakusa ??!! Siapa yang mau jadi gengster Jepang bertato Bunda?”

“Oalah Parmin Parmiiin.. Siapa yang menyuruh kamu jadi genster? Wong motor butut saja kita tidak punya??!”

“Saya mau usaha yang lurus-lurus saja Bunda, berjualan nasgor dijalan-jalan Kota yang lurus-lurus dan mulus-mulus juga”

“Hohoho.. Siapa yang menyuruh kamu usaha dijalan dan dengan cara yang menyimpang, Parmiiiin ??”

“Lha.. Barusan itu apa??! Bunda menyuruh saya jadi Yakusa kan??”

“Hehehe.. Kamu salah dengar Parmin..?”

“Tidak Bunda…?!”

“Kupingmu soak Parmin?! Hehehe”

“Enak aja Bunda ngatain Kuping Parmin soak!”

“Lha, opo namanya kalau tidak soak?! Wong saya tidak ada nyuruh kamu jadi gengster, ko’ malah berhasulisani..!”

“Halusinasi!!”

“Ya, ya, berhalusinasi jadi gengster?!, Parmin Parmiiin……”

“Oalaah.. Bunda.. Bunda.., Yakusa itukan gengster Jepang?? Saya tidak mau jadi Yakusa Bunda!”

“Loh?!”

” Tidak nemnenuhi syarat!, Bunda kan tau kalau punggung saya sudah penuh dengan tato bekas cacar air?!! Tidak ada tempat lagi untuk membuat gambar tato!”

“Apa hubungannya Parmin??!”

“Mau ditulis dimana lagi tatonya kalau saya mau jadi Yakusa, Bunda??!”

“Hahahaha.. Parmin.. Parmin.., maksudnya, Yakusa! Bukan Yakuza!! Yakusa = Yakin Usaha Sampai!!, Ya=Yakin, U=Usaha, Sa=Sampai..!”

“Hahhhh???!!! Hahahaahah…”

“Usaha Nasi Goreng kelilingmu itu lho.., Yakusa! Yakin Usaha Sampai “

“Glegkzz.. Oalah Bundaa.. Bunda.. Ada ada saja bikin singkatan.. Hahahahahahahaah”

“Hahahaha.. dasar bocah kurang gaul!!”

“Hahahahaa..Ddasar orang tua kegaulan!! Hahahahaha”

“Hahahahahaha…hahahahahah”

Suara tawa dan canda Anak dan Ibu itu seperti petir disiang bolong, mengagetkan tetangga mereka yang sedang asyik menonton “masih dunia lain”.

Malam itu, menjadi malam terindah bagi Parmin, lepas dari penjara galau yang selama ini telah mengurungnya.

Masih tampak sisa-sisa senyun bahagia ketika sinar matahari menerobos masuk dari ventilasi jendela kamar menyoroti sepasang bibir Parmin, persis seperti duo Maia yang disinari lampu sorot di atas panggung. Hari inipun, Parmin kesiangan lagi! Padahal ia harus menyiapkan peralatan dan bahan-bahan dagangannya untuk malam nanti.. Jam menunjukkan pukul dua belas siang..

Gedubrak!!! Parmin setengah sadar meraih, atau lebih tepatnya menabrak gerobak jualan nasgor pesananya yang baru datang tadi pagi. Tidak baru, tapi seconhand, bekas miliknya seorang pedagang nasgor yang sudah mengakhiri karirnya karena berganti menjadi pedagang nasi uduk.

Sial!! Kenapa aku tampak gugup sekali!? Gumam Parmin dalam hati.

“Nasgor! Tek tek tek… Nasgor.. Tek tek tek…” Teriakan suara Parmin menawarkan dagangan nasgornya terdengar sampai ke ujung gang. Tetapi belum satu orangpun yang membelinya.

Mungkin orang-orang di sini baru selesai hajatan, sehingga masih pada kenyang semua. Tak henti-hentinya Parmin bergumam campur gerutu.. Ia duduk terdiam di sebuah kursi taman sambil memajang gerobak nasgornya. Tepat dibawah papan bertuliskan, “pedagang Nasi Goreng dilarang keras berjualan di taman ini”. Tiba-tiba, dari arah selatan, terdengar suara gemuruh.. seperti bunyi kereta api, eh.. Lebih tepatnya gunung meletus..

“Tramtiiiiib… Tramtib.. Kabuuur….” Demikian lamat lamat suara teriakan itu terdengar Parmin, bercampur dengan suara gedubrak grobak yang didorong melaju kencang sambil berlari..

“Astaga!!!, ada apa itu!?” Parmin masih terbius tanda tanya besar..

“Mas lari mas.. Kabuur.. Ada tramtib.. Satpol PP mengamuk! Nanti gerobakmu bisa diangkut.. Kita berjualan di tempat terlarang!! Ayo kaboor Maaassss” Demikian teriakan salah satu pelarian pedagang itu..

Ternyata malam ini ada penertiban pedagang nasi goreng. Sejak sebulan lalu, Walikota memang membuat kebijakan tangan besi, melarang pedagang nasi goreng berjualan di taman kota. Sejak ada pedagang nasi goreng berjualan di taman kota, omset bisnis nasi uduknya bu Walikota memang merosot tajam. Belum habis fikiran Parmin bertanya, tangan-tangan kekar telah mengangkut grobak nasgor nya ke atas truk sampah pemerintah kota.

“Pak..pak.. Grobak saya mau dibawa kemana??!”

“Anda telah berjualan ditempat terlarang”

“Tidak bisa begitu Pak!! Bapak tidak bisa seenaknya ambil gerobak saya!! Itu namanya kesewenang-wenangan Pak!!” Panik, prustasi dan kepepet, Parmin memberanikan diri untuk mendebat.

“Anda jangan banyak pertanyaan!! Tempat ini segera akan disterilkan, karena besok bapak walikota akan menggelar acara temu kangen nasional ditaman ini!”

“Tapi sayakan warga negara, memiliki hak yang sama dengan Walikota?!”

“Ya, Anda memang seorang warga negara, tetapi warga negara kelas tiga, sehingga haknya juga berbeda dengan Walikota!!”

“Lalu, apa hak saya yang dilindung undang-undang?!”

“Maka, sebaiknya diam dan ikuti saja perintah kami, sekarang Anda ikut kami untuk menjalani interogasi!!”

“Tidak!! Saya tidak akan tunduk pada penguasa yang menindas seperti bapak Walikota kamu itu! Eh, bapak Walikota saya juga dink!!”

Bllluuuuzzzzzz… Parmin kabur secepat kilat, menghindari penangkapannya. Komandan Satpol PP bahkan nyaris tidak menyadari kalau bayangan Parmin sudah lenyap dari hadapannya.

gedubraaaakkkkk!! Langkah kaki Parmin baru terhenti ketika tubuhnya yang kurus itu menabrak sebuah gerobak nasi goreng dikegelapan.

“Siapa kamu?!! Satpol PP kah?? Hajaaaar!!”

“Hajaar! Hajaaar!!!”

“Hantam!!”

“Sabar-sabar.. Saya bukan satpol PP!! Saya Parmin, pedagang Nasgor!!”

“Ohh?!! Kamu toch..” Syukurlah! Lelaki yang sempat mengajak Parmin kabur beberapa waktu yang lalu masih mengenali Parmin!

“Ini tidak benar!! Ini sudah keterlaluan! Pengasa otoriter!! Penugasa despotik, necropilis, penindas!!” Parmin meracau melampiaskan kemarahannya..

“Lalu?! Memangnya apa yang bisa kamu lakukan kawan??” Sergah salah seorang pedagang nasgor di bawah gerumbul pohon bambu dalam temaram cahaya bulan.

“Ya?! Kamu bisa apa rupanya” sergah pedagang nasgor lainnya.

“Betul, siapa sih kamu berani menghardik walikota?! Kamu kan pedagang kemarin sore?!”

“Tepatnya pedagang nasgor kemarin sore” koreksi Parmin sebelum melanjutkan perkataanya.

“Tenang-tenang! Tenang kawan-kawan… Kita harus bersatu! Kita harus membentuk wadah! Kita tidak boleh membiarkan perlakuan seperti ini!” Parmin kembali berorasi. Para pedagang nasi goreng gerobak yang awalnya sembunyi, satu-persatu menampakkan diri dari balik semak-semak, satu, lima, sepuluh.. dan. Diluar dugaan Parmin, jumlah mereka ternyata banyak sekali! Semuanya kini terkesima mendengarkan orasi dan agitasi Parmin untuk berjuang dan memperjuangkan hak-hak para pedagang nasgor!

“Baiklah, kita sepakat membentuk wadah itu! Lalu?! Dengan cara apa kita harus memperjuangkan hak-hak kita sebagai pedagang nasgor?!” Lelaki tinggi tegap, sepertinya ia yang dituakan oleh kelompok pedagang nasgor tersebut, mulai angkat bicara.

“Kita harus melawan!! Dengan wadah Partai yang kita bentuk malam ini, kita harus melakukan perlawanan politik terhadap kebijakan Walikota yang otoriter dan tidak berprikerakyatan itu!” Parmin masih berusaha membakar semangat patriotisme mereka sebagai pedagang nasgor. Sekita arena semak belukar dipinggir kota itu menjadi tempat kongres pertama berdirinya Partai Nasgor!

“Ya!?! Sekarang kita sudah sepakat membentuk wadah, walau demikian dengan cara apa dan bagaimana kita harus melawan??”

“Kita harus menghadap bapak Walikota!!”

“Menghadap Walikota?! Mana mungkin dia mau menerima? Kita?!”

“Apakah kalian sudah pernah mencobanya?!”

“Belum pernah!”

“Nah, besok kita akan coba! Tetapi kita harus bersatu dan jangan jalan sendiri-sendiri!”

“Hahhh??! Besok?!” Serentak para pedagang nasgor itu terbengong dalam tanyanya dan bertanya dalam kebengongannya..
“Ya, besok!”

“Hmn.. Dimana?”

“Di taman?!”

“Ditaman mana?!”

“Di taman kota”

“Bagaimana bisa?!”

“Bisa”

“Bagaimana caranya”

“Jangan mengulang pertanyaan, yang penting besok siapa yang mau ikut saya bertemu Walikota di taman kota?!”

“Saya ikut!!”

“Ikut!!”

“Gabung!!”

“Hadir!!”

“Ikut gabung!!l

Akhirnya semua memnutuskan bergabung dengan Parmin untuk ikut menemui Walikota, dengan agenda protes dan menuntut hak berjualan nasgor di taman kota.

Parmin benar-benar bangga bisa mempersatukan para pedagang nasgor di kotanya. Tidak hanya itu, ia bahkan berhasil membentuk wadah persatuannya, bernama Partai Nasgor!

Hari ini ia memilih stelan kemeja dan celana hitam. Agenda memimpin massa untuk menemui Walikota di Taman sudah bulat sempurna! Parmin akan memimpin sendiri misi itu!

“Bapak Walikota! Kami protes!! Kami protes dengan Bapak!! Kenapa Bapak gunakan kekuasaan untuk menggusur kami!!” Ditengah-tengah pidato pembukaan acara temu kangen yang sedang disampaikan Bapak Walikota, Parmin melakukan interupsi.

“Ya!! Kami protesssss!! Para pedagang nasgor lainnya, dengan suara bulat, koor, ikut berteriak!

“Ada apa ini??” Siapa kalian?!!

“Kami rakyat jelata yang Bapak tindas!!”

“Rakyat jelata? Saya tidak ada urusan dengan rakyat jelata! Saya hanya mengundang partai-partai pendukung saya untuk pesta temu kangen di taman ini!!”

“Jadi, bapak hanya menerima utusan partai politik?!”

“Ya!”

“Baiklah! Saat ini juga Kami umumkan bahwa kami dari partai!!” Kawan-kawan parmin hanya bisa terheran-heran. Diam-diam mereka mulai semakin mengagumi keberanian dan kecerdikan Parmin.

“Kalian dari partai apa? Kantornya mana!? Saya tidak merasa mengundang kalian!!”

“Kami dari Partai Nasgor!”

“Hahhh?! Partai Nasgor?!” Para pengunjung berbisik-bisik heran sambil menahan senyum.

“Partai Nasgor?! Partai apa itu? Hahahahahaha” Selidik Walikota dengan mimik meremehkan..

“Kami protes Bapak menertawakan Partai kami!!” Pedagang Nasgor tua yang ikut dalam barisan Parmin mulai menunjukkan ketersinggungannya kepada Walikota yang dirasa melecehkan mereka.

“Ya!! Bapak tidak bisa seenaknya menertawakan partainya rakyat jelata!”

“Betul!! Bapak Walikota jangan arogan!”

“Ayo kawan-kawan!! Bila perlu kita jadikan panggung walikota ini sebagai panggung orasi mengajak partai-partai ini berhenti mendukung Walikota!” Parmin semakin semangat.

“OK OK… Baiklah.. Sekarang apa maksud dan tujuan dari kedatangan kalian?!”

“Kami ingin meminta hak kami!!”

“Ya, kami ingin meminta hak kami!!”

“Loh!? Apakah saya sebagai walikota telah mengambil hak kalian?”

“Kebijakan Bapak Walikota melarang kami pedagang nasgor berjualan ditaman dan tangan kejam Tramtib Satpol PP, bapak telah nerampss hak kami!!”

“Hak apa??!”

“Hak untuk berjualan!”

“Berjualan Dimana?”

“Berjualan disini!! Di Taman Kota ini”

Walikota terdiam! Ditatapnya Komandan Satpol PP yang juga turut hadir dalam acara tersebut. Sementara itu, sorotan kamera media masa semakin detil mengambil satu persatu momentum langka yang tidak pernah terjadi selama ini. Walikota yang dikenal otoriter itu tampak tidak berkutik menghadapi ratusan massa pedagang nasi goreng yang dipimpin Parmin!

“Bagaimana Bapak Walikota?! Apakah hak kami berjualan di taman ini masih akan bapak rampas?!” Mengetahui antusiasme media massa menyorot mereka, Parmin dan kawan-kawan semakin mempertontonkan protes dan perlawananya secara demonstratif. Sementara itu diatas podium sang Walikota masih tertegun. hatinya bergetar hebat, otaknya serasa mendidih, kalau saja saat itu tidak ada media massa yang menyiarkan secara langsung, mungkin ia sudah akan mengerahkan satpol PP untuk mengusir Parmnin dan kawan-kawan.

“Bapaimana Pak Walikota? Bapak jangan diam saja! Kami juga rakyat bapak yang perlu Bapak tanggapi!!”

“OK..OK..OK.. Kalian menang!! Mulai besok kalian boleh berjualan nasi goreng di taman kota ini..!!”

Prok.. Prokk… Prookkk.. Tiba-tiba orang-orang yang hadir memberikan tepuk tangannya yang meriah.. Wajah-wajah sumringah tampak pada ekspresi Parmin dan kawan-kawan. Mereka bersorak sorai, berjoget-joget kegirangan. Musik dangdut pengiring acara yang tadinya sempat berhenti, kini dilanjutkan kembali dengan mengalunkan tembang lawas Rhoma Irama, Perjuangan!

“Hidup Parmin! Hidup Parmin!! Hidup Nasgor!! Hidup Partai Nasgor!!!” Teriakan ini tidak lagi digemakan oleh para pedagang nasgor kawan-kawan Parmin, tetapi bahkan oleh para wartawan dan hadirin yang ada disitu. Inilah sejarah pertama di Kota itu, rakyat berani dan berhasil menuntut haknya dari seorang Walikota yang terkenal sangat otoriter dan gemar main kayu. Wartawan segera mengerumuni Parmin untuk mengambil gambar dan mewawancarainya.

“Tapi, ngomong-ngomong, sejak kapan partai nasgor itu berdiri bung Parmin? Dan apa visi misinya?” Wartawan dari televisi nasional terkemuka mulai mencecar Parmin dengan pertanyaan demi pertanyaan..

“Partai Nasgor dideklarasikan hari ini, visi misi kami mewujudkan kesejahteraan masyarakat dengan menghidupkan kembali budaya gotong royong, penegakan hukum kepada koruptor, dan menguatkan ekonomi kerakyatan!”

“Mas Parmin.. Mas Parmin.. Lalu, kenapa memilih nama Partai Nasi Goreng alias Nasgor? Bukankah lebih elegan dengan nama misalnya Partai Berdikari, Partai Demokrasi Rakyat Bersatu,… Bisa dijelaskan Mas?” Ditengah desak-desakan puluhan para kuli tinta, Wartawati cantik berkulit putih itu sangat antusias merebut momentum mewawancarai Parmin..

“Kami tidak akan mengubah nama Partai Kami, Partai Nasgor! Dan perlu diketahui, meskipun hampir seluruh pengurusnya adalah penjual nasi goreng, kami tidak membentuk Partai Nasi Goreng!”

“Lohh?? Lalu Partai Nasgor itu… Apam.. ????!” Wartawan-wartawan terus mengejar pertanyaan..

“Partai Nasgor adalah kependekan dari Partai Nasional Gotong Royong!! Arena perjuangan kami juga bukan dikursi Parlemen! Tetapi dijalanan! Seperti yang kami lakukan saat ini, membela hak wong cilik yang ditindas penguasa!”

“Hidup Parmin!! Hirup Partai Nasgor!! Hidup Partai Nasgor!!” Teriakan dan yel yel kembali digemakan oleh kawan-kawan Parmin. Gemanya terus bergetar mengalahkan musik dangdut yang saat itu sedang mendayu-dayu. Mengantarkan parmin menuju grobak-grobak nasi goreng mereka, untuk persiapan berjualan nanti malam..

TAMAT

Cerpen Dhimas Soesastro, 25/04/2012
dari Kompasiana.com oleh Dhimas Soesastro

Tahukah Kamu?
Ada lebih dari 300 bakteri pembentuk karang gigi
komentar | | Read More...

Kisah Anak Kecil yang Pandai Bersyukur

Penulis : Unknown on Rabu, 02 Mei 2012 | 08.16

Rabu, 02 Mei 2012

Suatu ketika seseorang yang sangat kaya mengajak anaknya mengunjungi sebuah kampung, dengan tujuan utama memperlihatkan kepada anaknya betapa orang-orang bisa sangat miskin. Mereka menginap beberapa hari di sebuah daerah pertanian yang sangat miskin.

Pada perjalanan pulang, sang Ayah bertanya kepada anaknya.

' Bagaimana perjalanan kali ini?'

' Wah, sangat luar biasa Ayah'

' Kau lihatkan betapa manusia bisa sangat miskin' kata ayahnya.

' Oh iya' kata anaknya

' Jadi, pelajaran apa yang dapat kamu ambil?' tanya ayahnya.


Kemudian si anak menjawab. ' saya saksikan bahwa kita hanya punya satu anjing, mereka punya empat.

Kita punya kolam renang yang luasnya sampai ketengah taman kita dan mereka memiliki telaga yang tidak ada batasnya.

Kita mengimpor lentera-lentera di taman kita dan mereka memiliki bintang-bintang pada malam hari.

Kita memiliki patio sampai ke halaman depan, dan mereka memiliki cakrawala secara utuh.

Kita memiliki sebidang tanah untuk tempat tinggal dan mereka memiliki ladang yang melampaui pandangan kita.

Kita punya pelayan-pelayan untuk melayani kita, tapi mereka melayani sesamanya.

Kita membeli untuk makanan kita, mereka menumbuhkannya sendiri.

Kita mempunyai tembok untuk melindungi kekayaan kita dan mereka memiliki sahabat-sahabat untuk saling melindungi.'

Mendengar hal ini sang Ayah tak dapat berbicara.

Kemudian sang anak menambahkan ' Terimakasih Ayah, telah menunjukan kepada saya betapa miskinnya kita.'

Betapa seringnya kita melupakan apa yang kita miliki dan terus memikirkan apa yang tidak kita punya. Apa yang dianggap tidak berharga oleh seseorang ternyata merupakan dambaan bagi orang lain. Semua ini berdasarkan kepada cara pandang seseorang. Membuat kita bertanya apakah yang akan terjadi jika kita semua bersyukur kepada Tuhan sebagai rasa terima kasih kita atas semua yang telah disediakan untuk kita daripada kita terus menerus khawatir untuk meminta lebih.

Sumber

Tahukah Kamu?
Nama asli Donal bebek adalah Donald Flauntleroy Duck

komentar | | Read More...

Cerpen - Ketika Cinta Harus Pergi

Penulis : Unknown on Jumat, 06 April 2012 | 14.43

Jumat, 06 April 2012

Perkenalan ku padanya memang tidak disengaja. Sungguh semua ini diluar dugaan,, betapa tidak...!! Ternyata Dia adalah adik dari teman Abang ku sendiri,,, ehm.... cukup mengejutkan, Dia mengenal Abang ku, dan Aku pun mengenal Abangnya,,. Tapi anehnya kami tidak saling mengenal. Sebuah Perkenalan melalui HaPe... Aku sering SMS-an dan berbagi cerita dengan Dia.
Pendek Cerita... kami pun berjanji untuk ketemuan. Sesuatu yang di tungggu-tunggu pun tiba. Sosok bertubuh sedikit kecil dan berpakaian sederhana menghampiriku, (persis seperti penampilan abangnya...)

Awal yang baik, kami melanjutkan pertemanan kami dengan sering jalan bareng. Waktu pun terasa cepat berlalu. Dia pindah keluar kota, karena mendapat pekerjaan baru. Aku pun sudah jarang bertemu dengannya. Kalau pun ada,, itu hanya sesekali... bila dia libur dan pulang kerumahnya.


***Ada suatu malam,,, Aku merasa galau, karna berakhirnya cinta ku pada pacar ku. Ku putuskan untuk menelponnya, karena aku butuh seseorang untuk curhat. Dalam perbincangan itu aku menceritakan apa yang terjadi sebenarnya, tapi yang malah mengejutkan ku.. cerita ku tidaklah se-Ironis ceritanya. Aku pacaran selama 16bln saja kesedihan ini bisa berlarut-larut,, tapi dia malah lebih lama, berpacaran selama 5 thn, tapi tetap tegar menghadapinya.

Aku tersentak sadar,, betapa dia adalah lelaki yang sabar, dia hanya berkata “mungkin dia bukan jodoh mas..”

Hhmm.... rasa damai saat aku mendengar ucapannya, ku rasa kesedihan ini pun harus ku akhiri, memulai cerita yang baru dan semangat yang baru. Ku coba tanya mengapa mereka sampai putus, mengakhiri kebersamaan 5 thn dengan begitu saja. Tapi dia hanya menjawab “berbeda pendapat ajah,, dan kami sudah memutuskan pilih jalan masing-masing”

Sungguh jawabannya itu membuatku merasa tidak puas,, ingin rasanya ku tanya lebih dalam, tapi itu tidak mungkin, aku tidak boleh bertanya terlalu detail,, nanti juga aku akan tau semuanya bila aku mau bersabar.

Sejak mengenalnya, aku selalu ingin tau tentangnnya, ku cari informasi dimana saja, dengan siapa saja, demi mendapatkan sesuatu informasi tentang dirinya, salah satu kabar yang aku tau adalah dia beragama Katholik. Sungguh suatu yang mengejutkan bagi ku... dan mungkin inilah penyebabnya mengapa mereka putus, pasti tidak salah lagi semua itu karena agama.

Aku masih ingat betul 8 April 2011 aku bertemu dengannya disebuah kost Adik sepupuku, dan kini waktu kian berlalu,, perkenalan ku dengannya semakin akrab, saling berbagi perhatian, saling memberi semangat, sebagai tanda kami saling membutuhkan.

Aku mulai rindu, jika lama tak bertemu, aku mulai gelisah bila sms nya tak kunjung menghampiri inbox ku. Ada apa sebenarnya yang terjadi padaku, aku mulai menggantungkan keceriaan ku padanya. Ditambah lagi dia memberi ku sebuah kado yang disaat Ultah ku, dan aku merasa semua itu sangat spesial. Semakin lama rasa ini semakin membukit,, rasa ini sungguh sulit untuk diungkapkan,, aku hanya tidak ingin jika jawaban dari pernyataan hati ku ini adalah CINTA. Aku takut.... aku takut bila Jatuh Cinta padanya.


***Malam tu malam Minggu,, tiba-tiba Hape ku berdering dan tertulis “ Akis Calling....”
Eemm....hati ku langsung berdetak kencang,, ingin secepatnya ku pencet tombol hijau,, tapi aku perlu waktu sedikit untuk menenangkan hati agar tidak gemetar saat mengangkat telponnya.
Penjang lebar kami bercerita,, walau kadang-kadang terdiam, karna mungkin dia tidak terlalu pandai bicara,, dia kemudian bertanya “nanti hari minggu adek kuliah ya..?”,, “iya mas... emangnya kenapa.?” Jawab ku.

“Enggak,, mas mau ngajakin keundangan ntar tanggal 20 november, Mantan mas nikah...” betapa aku terkejut mendengarnya, masa sih bisa secepat itu pikir ku, baru Februari kemarin mereka putus,, kenapa November ini sudah mau nikah mantannya, ribuan tanda tanya muncul di benak ku. “ mungkin adek nggak bisa ya..?” ucapnya lagi.. tapi aku langsung menjawab “ adek pengen ikut mas, adek pengen kesana, bisa kok... nanti juga nggak banyak tugas lagi, jadi adek bisa ijin dulu minggu itu..” Aku tidak mungkin melewati kesempatan itu, apa pun akan ku lakukan agar bisa ikut dia.
Keinginan itu pun terwujud, dikampus nggak ada dosen, aku pun tanpa pikir panjang langsung pulang, tidak lama kemudian dia pun datang kerumah ku untuk menjemputku, walau cuaca kelihatan mendung, tapi tidak membuat semangat ku lemah untuk ikut dengannya.

Tak perlu berlama-lama lagi, aku berangkat, mungkin sedikit nekad, awan putih berubah menjadi gelap, walau kami berharap hujan tak hadir, tapi kuasa Tuhan tidak lah dapat ditahan, di perjalanan kami kehujanan, kami berhenti disebuah warung untuk menghindari hujan lebat, hampir 1 jam kami disitu, hanya terdiam, sambil terucap doa semoga hujannya berhenti.

Yacchh,,,, sepertinya hujan pun mengerti, meski gerimis mengusik, kami tetap melanjutkan perjalanan, eemm... namanya juga musim hujan,, di perjalanan selanjutnya kami kehujanan lagi, kemudian kami berteduh lagi.

Aku ingin cepat sampai, baju ku juga sudah basah, untuk apa berteduh, aku memaksanya untuk melanjutkan perjalanan kami, akhirnya dia mengikuti ingin ku, Huuuuftt.... perjalanan yang melelahkan,, kesabaran ku seperti membara, aku ingin tau dimana rumahnya,” mengapa jauh sekali..??” ucap ku dalam hati. Jalan rusak dan berliku, turun naik tanjakan, hingga kebun karet pun kami lewati. Hati ku banyak berkata “ Ya Allah... bagaimana mungkin pengorbanannya yang begitu ikhlas harus dibalas dengan sebuah kekecewaan, 5 thn untuk malam minggu bersama pasti sangat melelahkan baginya, mengapa dia begitu kuat..??” Hahh.... keadaan ini membuat ku semakin terkagum padanya.

Tiba-tiba dia berkata pada ku “ pasti nanti adek dibilang pacar mas,,,he..”

Aku langsung menjawab “ ya nggak apa apa lah mas, biarin aja,.” Aku berusaha cuek dengan perkataan itu, walaupun sebenarnya sangat mengagetkan ku.

Akhirnya tiba juga di tempat resepsi, karna hujan tamu pun tidak terlalu ramai, tapi aku tau... orang-orang di sekililing itu memperhatikan ku.

Yupz... perkataannya itu benar, aku dianggap pacarnya, hhmm... terpaksa aku harus mengikuti persandiwaraan ini, Orang tua manta nya, keluarganya, temannya, semua beranggapan begitu. Bahkan sebuah perkataan yang sempat membuat ku terkejut adalah disaat ibu Mantannya berkata “ Oo,,, ada akis... hhmm,, sama cewek yaa,, tapi kok yang ini pake jilbab.?? Yaa... nggak apa apa lah, mungkin yang ini berjodoh”

aku hanya tersenyum, walau dalam hati ku keheranan mulai menghampiri, aku tau jawabannya, Ini lah jawaban atas pertanyaan yang selama ini ku simpan,. Tepat sekali,, mereka harus mengakhiri kebersamaan mereka karena Keyakinan.

Tak lama kami pulang,, berpamitan dengan Pengantin, lalu diminta foto bareng, Mungkin akan menjadi kenangan yang Abadi....

Saat perjalanan pulang,, betapa aku sangat mengerti posisinya, aku tau perasaannya, tidak mudah menerima semua ini dengan bersembunyi dibalik senyum kesederhanaanya. Ingin rasanya aku memeluk erat tubuhnya, agar hatinya yang berdegub kencang dapat meredam, aku tidak tau harus berbuat apa, sebisa mungkin aku harus bisa membuatnya kuat untuk melewati semua ini.

Berkali-kali ucapan terima kasih dia ucapkan untuk ku, karna sudah bersedia menemaninya dalam kisah masa lalunya ini, tapi aku hanya bisa tersenyum, aku takut salah berbicara yang hanya akan menambah lukanya, tapi tak henti hati ini selalu berkata diam-diam “makasih mas untuk hari ini, aku sangat bahagia bisa ikut bersama mu, menjadi pacar sandiwara mu, menjadi sosok cewek tegar digegalauan mu,,meski hati mu sekarang sedang bersedih, maafkan aku,,, jika aku tak bisa berbuat lebih untuk mu”

Hhm... aku hanya mampu mengucapkannya di hati, berbisik pelan untuk diri sendiri, berharap dia tidak mendengar.

Usai mengantar ku, dia langsung pamit pulang... aku tau betapa lelahnya dia, aku saja sangat merasakannya, apalagi dia yang harus melanjutkan perjalanan keluar kota untuk kembali ketempat kerjanya dengan kekecewaan. Kekhawatiran ku pada keadaannya amatlah dalam, aku takut terjadi apa-apa dengannya, tak lupa ku ucap pesan untuknya “ hati-hati dijalan mas,, kalau uda nyampe rumah sms adek ya..?” lalu senyum ku menghantarnya.

Setelah 1 jam lebih berlalu, dia mengirim sms pada ku, dia berhenti untuk istirahat, aku coba membalas smsnya dengan kata-kata yang membuat dia tetap semangat, lalu dia membalas sms ku “Makasih atas semangatnya. Mas harus segera bangkit lagi kayaknya, memang sulit kalau sudah berbeda, konsekuwensinya mas harus menerima akibatnya, tapi nggak apa-apalah... mas dapat pelajaran dari semua ini, memang sulit belajar ilmu ikhlas sama sabar”. Hanya menghela nafas yang mampu ku lakukan setelah membaca smsnya.


***Setelah perjalanan itu,, aku mulai dihantui berbagai keraguan, hati selalu gelisah, tidak tenang. Bahkan aku merasa bahwa dia adalah sosok yang memiliki peran penting dalam hidup ku. Bahkan setiap malam aku selalu memeluk boneka yang dihadiahkannya untuk ku sebelum tidur, sesekali airmata ku mengalir tanpa aku sadari, betapa berat perasaan ini, aku tak sanggup menahannya. Aku sangat menyayanginya, tapi aku tidak bisa memilikinya, aku takut rasa ini hanya akan mengulang kesalahan yang pernah dibuatnya, aku takut membuatnya kecewa lagi.

Seperti biasanya, aku selalu ber-sms dengannya, tak pernah bosan walau yang tertulis hanya itu-itu saja. Entah mengapa topik sms kami mengarah ke arah serius.

“Mas capek, biasanya kalau mas kecapek’an kayak gini, mas ingat sama orang yang mas sayang, mas seneng kalau diperhatikan..” itu isi sms yang dia kirim pada ku, aku pura-pura ingin tau siapa orang yang dia maksud.

“eemm.... uda ada yang baru ya..?? kok nggak bilang sih..?”

“nggak ada yang baru mas,,, mas kayaknya masih trauma lah pengen pacaran lagi... apalagi yang beda agama,”

Adrenalin ku berpacu kencang, sungguh isi sms itu telah meruntuhkan gunung harapan ku. Selama ini aku yakin dia juga menyayangi ku, dan aku yakin bahwa kami pasti bisa bersama nantinya, tapi semuanya harus terkubur, aku sadar, Agama bukan lah hal sepele diantara hubungan kami ini.

Airmata ku mengalir, kian deras,, membasahi seluruh wajahku, batin ku pun ikut meratap..”Ya Allah,, cobaan apa lagi ini.? Mengapa Engkau harus mempertemukan ku dengan dia, bila hanya luka jiwa yang akan terukir, Ya Allah... apakah dengan cara ini Engkau mengajari ku untuk bersabar, mengapa aku selalu sulit mendapatkan cinta yang ku ingin, aku sangat menyayanginya, sangat mencintainya, tapi mengapa jurang antara kami sangat lah berbahaya, Ya Allah... tunjukkan aku jalan terbaik-Mu..”

Aku hanya bisa membalas “ iya lah mas,,, Tuhan pasti sudah merencanakan semuanya, makasih atas semuanya mas, makasih juga uda ngasih boneka yang selalu ada buat adek, he..”

“iya,,,itu semua karna mas sayang sama adek, untuk sekarang adek yang ngerti mas..”

Aahh.... kata Sayang yang dikirimnya, mungkin tak berarti baginya, tapi bagi ku,, kata-kata itu seperti ombak besar yang meruntuhkan bendungan airmata ku, sekencangnya aku menangis, entah apa maksud dari semua ini.

Setelah itu lah,,,, aku sadar apa yang harus aku lakukan, memang menghindar bukan jalan yang baik, tapi aku harus pandai memposisikan diri, agar perasaan ini tidak terlalu mendalam.

Waktu terus berlalu, kedekatan ku padanya semakin akrab, hampir mirip dengan orang yang sedang berpacaran. Liburan Natal, dia mengajak ku jalan-jalan, tapi cuaca selalu hujan, jadi susah untuk kami bertemu, ada pun Cuma sebentar, saat itu aku datang kerumahnya waktu hari pertama Natal, itupun dengan baju lusuh dan basah karna kehujanan, aku hanya sebentar bertemu dengannya, tidak sedikit pun bisa menghilangkan rindu ku.

Entah mengapa waktu seakan mengijinkan kami untuk jalan bersama, hari itu tidak hujan lagi, cuaca sangat bagus. Tanpa perencanaan, dia menjemput ku. Kami jalan bersama mengelilingi kota, ada suatu tempat yang ku sukai saat dia pertama kali membawa ku jalan-jalan, tempat itu adalah “Bukit Bintang”, tapi sayang, dulu kami ketempat itu waktu siang hari, aku hanya bisa melihat kota yang dipadati rumah penduduk dan gedung-gedung saja. Aku merasa tidak puas, lalu aku berencana akan kembali bersamanya ketempat itu pada malam hari. Dan keinginan ku itu diwujudkannya, selesai makan dan keliling kota, aku dibawanya ke Bukit Bintang.

Aku terkejut melihat keindahan kota pada malam hari, diatas bukit itu aku bisa melihat kota yang dipenuhi dengan lampu-lampu, dan langit yang dihiasi bulan bersama bintang-bintang. Sungguh pemandangan yang indah dan romantis, aku menikmatinya dengan damai, lirih dalam hati ku pun berbisik pada Sang Pencipta “ Ya Allah.... Engkau lah yang tau akan takdir ku, aku hanya bisa menunggu jawaban ini dengar rasa sabar melewati waktu, malam ini aku bersamanya, aku merasakan kedamaian yang tak ingin ku lepas, Ya Allah.... jangan buat orang sebaik dia merasakan sakit hati atau kecewa karna perasaan ku”. Beberapa saat kemudian dia pun mengajak ku pulang, tentu saja kami tidak boleh berlama-lama, karna dia harus mengantar ku pulang.


***Kembali lagi,, keraguan mengusik ku, aku butuh suatu kejelasan darinya, sebenarnya seberapa penting diri ku baginya. Tapi aku harus menunggu waktu yang tepat, agar dia tidak merasa tersinggung atas pertanyaan-pertanyaan ku. Dan aku memutuskan, bahwa waktu yang tepat adalah Malam Tahun Baru. Karna aku akan menghabiskan malam itu bersamanya.

Yeaachh.... semoga semuanya bisa dibicarakan dengan baik, aku dan dia pasti akan mengerti dengan keadaan ini. Aku juga tidak mungkin terus berharap padanya, sedangkan akhirnya aku juga tidak tau. Haruskah ku korbankan waktu yang panjang demi sebuah jawaban yang tidak begitu jelas?


Rasanya semua ini tak sanggup untuk ku pendam sendiri, banyak yang menyukai ku tapi semuanya ku tolak, hanya karna demi menghargai perasaannya. Tapi... apakah adil bagi ku, bila aku harus menutup diri dari orang-orang yang mengajak ku untuk serius. Sedangkan yang ku jalani sekarang juga tidak jelas arahnya.

Aku ingin membuat semua ini menjadi nyaman, aku juga tidak akan berpasrah diri pada Takdir Tuhan, walau bagaimana pun rasa sayang ku padanya, Agama ku tidak akan aku korbankan demi cinta ini.


***Ku pikir malam Tahun Baru ini adalah moment yang tepat untuk kami saling mengungkapkan perasaan. Tapi ternyata tidak lah seperti yang ku harapkan. Dimalam itu kami hanya membahas tentang perasaan yang tidak bisa saling memiliki. Aku sangat merasa kecewa atas pernyataannya, bahwa hubungan kami memang tidak memiliki arah, bahkan dia pun tidak berani memberikan suatu keputusan tentang kedekatan kami ini.

“Mas... tidakkah kau mengerti perasaan ku sekarang..? aku sangat membutuhkan kejelasan dari hubungan ini, betapa perihnya aku, harus berjalan diatas kerikil yang tajam. Aku ingin langkah ku terarah, memiliki tujuan, sehingga aku dapat berpegang kuat pada tekad ku, saat badai mengguncang keyakinan ku...”


***Setelah event itu, aku merasa bahwa aku harus membuka mata ku dengan lebar, agar bisa melihat pandangan dengan terang. Aku takut bila saat tekad membulat, gelap datang menyapa, hingga membawa ku pada arah yang sesat.

Aku memutuskan untuk memendam rasa cinta yang begitu dalam ini di danau hati yang letaknya tersembunyi dari arah mata manapun. Ku biarkan air mata ini mengalir membuat dalam genangannya, kan ku jaga sampai pada waktu yang tak terbatas, karna tidak ada yang bisa menggantikan keistimewaannya dihati ku.

Aku tau bagaimana perasaannya, begitu sulit dia harus menjalani semua ini hanya dengan 2 mata dan 1 hati. Ku yakin dia butuh sandaran yang lain untuk menenangkan jiwanya yang dilanda probelam kehidupan. Walau sulit bagi ku juga berada disamping mu, tapi ku putuskan akan selalu menjadi pendengar baik mu disaat kau butuh seseorang untuk mendengar keluhan mu.

“ mas.. maafkan aku, aku tidak bisa menjadi seperti yang kau inginkan. Mungkin kita bukan lah sepasang jodoh, Tuhan sudah punya rencana lain dari pertemuan kita ini, ku harap kau pun mengerti mas, dalam hubungan ini kita sama2 diposisi sulit. Semoga mas masih bisa menemukan seorang wanita yang sesuai dengan keinginan mas. Cinta ku berhenti disini mas, Cukup sampai disini, ku telah memahami waktu dan takdir, bahwa waktu dan takdir tak mengijikan kita menjalin sebuah perasaan yang semakin jauh. U are special someone for me... everyday..”

*****
By: Ayu Sulastri
Email: Ayyu.astri@yahoo.com (YM,FaceBook)
Sumber

Tahukah Kamu?
"Jika kamu memiliki 10 trilyun rupiah dan menghabiskan 1000 rupiah setiap detik, dibutuhkan 317 tahun sebelum kamu jatuh miskin?"
komentar | | Read More...

Sejarah Hari Ini

Diberdayakan oleh Blogger.
 
Design Template by Mas Kentir | Support by creating website | Powered by Blogger