News Update :
Tampilkan postingan dengan label Adat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Adat. Tampilkan semua postingan

Mengenal Fakta dan Tradisi Pemberian Angpau

Penulis : Unknown on Minggu, 10 Februari 2013 | 12.02

Minggu, 10 Februari 2013

ANGPAU atau hing bao merupakan bingkisan dalam amplop merah yang biasanya berisikan sejumlah uang sebagai hadiah saat perayaan tahun baru Imlek.

Meski demikian, sebenarnya angpau bukan hanya sekedar pelengkap saat perayaan Imlek. Pemberian angpau melambangkan kegembiraan dan semangat yang akan membawa nasib baik, sehingga pada akhirnya angpau digunakan dalam beberapa perhelatan penting yang bersifat suka cita seperti, pernikahan, ulang tahun, penempatan rumah baru, dan perayaan lainnya.

Walaupun sebagai bentuk perayaan, angpau memiliki aturan dan arti tersendiri. Berikut adalah beberapa fakta dan kriteria pemberian angpau saat perayaan Imlek.

1. Dahulu, orang tua kerap memebrikan angpau berupa manisan, permen, atau makanan, kepada anaknya. Tetapi, seiring berjalannya waktu, para orang tua lebih suka memberi uang agar sang anak bisa membeli apa yang ia inginkan.

2. Tidak seperti salam tempel dalam perayaan lainnya, angpau hanya boleh diberikan oleh orang yang sudah menikah. Bagi warga Tionghoa, pernikahan merupakan simbol kedewasaan dan kemapanan seseorang, sehingga pada akhirnya mereka yang sudah menikah dianggap mampu secara ekonomi.

3. Meskipun telah mapan, mereka yang belum menikah sebaiknya tidak memberikan angpau. Pasalnya, menurut keyakinan, mereka yang memberi angpau, namun belum menikah, justru dipercaya bisa menjauhkan jodoh.

4. Mereka yang sudah dewasa dan mapan, namun belum menikah, masih bisa menerima angpau dari kerabatnya.

5. Mereka yang sudah menikahpun masih bisa menerima angpau, namun hanya dari orang tuanya.

6. Selain diberikan kepada anak-anak, angpau juga wajib diberikan oleh seorang anak yang sudah menikah kepada orang tuanya.

7. Dalam jumlah uang angpau, sebaiknya hindari angka 4, misalnya seperti 4.000, 40.000, atau jumlah yang mengandung angka 4 lainnya. Pasalnya, 4 dianggap sebagai angka sial. Pelafalan angka 4 bisa berarti "mati", dan hal tersebut dijauhi dalam tradisi ini.

8. Jika 4 merupakan angka yang dijauhi, masyarakat Tionghoa lebih menggunakan 8 sebagai angka yang dipercaya membawa keberuntungan. Pelafalan 8 bisa berarti "kekayaan". Maka dari itu, angka ini sering digunakan dalam jumlah angpau. Selain 8, isi angpau juga bisa kelipatannya.

9. Selain kepercayaan terhadap angka-angka yang bisa mendatangkan keberuntungan, masyarakat Tionghoa juga menghindari jumlah ganjil pada uang angpau yang diberikan.

10. Sebagai salah satu bagian dari doa, kata-kata yang tertulis pada amplop angpau sebaiknya berhubungan dengan kemakmuran, keberuntungan, panjang umur, kesehatan dan sebagainya.

11. Bagi penerima angpau, uang tersebut sebaiknya tidak dibelanjakan. Karena dianggap sebagai pemberian Dewa Cai Shen (Dewa Uang). Sebaiknya angpau tersebut disimpan dalam kantong celana atau dompet.

Sumber : metrotvnews.com

komentar | | Read More...

Pesona dan Cerita di Balik Rumah Adat Suku Dayak

Penulis : Unknown on Minggu, 08 Juli 2012 | 06.57

Minggu, 08 Juli 2012

Pesona dan Cerita di Balik Rumah Adat Suku Dayak - Kini, tak banyak lagi Suku Dayak di pesisir Kalimantan yang menempati rumah adat Lamin. Namun, tak hilang ditelan waktu rumah panjang khas Suku Dayak ini menjadi perhiatian wisatawan. Yuk, singgah di rumah Lamin Mancong!

Lamin merupakan rumah panjang dari kayu, buatan khas suku Dayak. Namun, kini tak banyak lagi masyarakat Dayak yang tinggal di rumah tersebut. Walaupun begitu, keberadaan rumah adat yang satu ini tetap menarik kedatangan wisatwan.

Lamin Mancong, sebuah objek wisata yang tentunya sayang untuk Anda lewatkan jika berkunjung ke Kalimantan Timur. Rumah Lamin Mancong ini merupakan sebuah rumah panjang terbuat dari kayu khas suku Dayak Benuaq. Traveler bisa bertandang ke rumah ini di Kampung Mancong, Kecamatan Jempang, Kabupaten Kutai Barat, Kaltim.

Usia bangunan yang sudah senja ini sudah pernah mengalami pemugaran oleh EHIF (Equatorial Heritage International Foundation). Di depan rumah adat seluas 1.005 meter persegi ini terdapat beberapa patung-patung dengan ukuran khas suku Dayak. Ada yang berupa patung laki-laki dengan anjing, perempuan, maupun bentuk lainnya yang terlihat semi abstrak.

Konon menurut kepercayaan suku Dayak, patung-patung kayu ini menandakan jumlah kerbau yang telah disembelih dalam acara Kuangkai. Kuangkai itu merupakan ritual penghargaan kepada arwah leluhur yang dianggap berjasa sepanjang hidupnya oleh anggota keluarga. Dengan kata lain, satu patung menandakan satu ekor kerbau yang mereka sembelih. Untuk membuktikan kebenaran tersebut, tengkorak kerbau juga masih dapat Anda lihat di dalam rumah Lamin Mancong.

Menurut penuturan beberapa warga, dulu banyak turis asing datang ke Mancong untuk berkunjung ke Rumah Lamin. Kebanyakan dari mereka di antaranya dari Belanda ataupun Amerika. Ya, letaknya yang berdekatan dengan Tanjung Isuy dan Danau Jempang membuat rumah Lamin ini menjadi salah satu tujuan kunjungan wisatawan. Tak jarang, upacara penyambutan berupa tari-tarian adat digelar oleh masyarakat setempat, sesuai dengan permintaan wisatawan.

Bangunan Lamin Mancong saat ini, tak lagi sepenuhnya mengikuti prinsip bangunan Lamin Dayak. Hal ini tampak dari bentuk bangunannya yang bertingkat, sementara rumah panjang Dayak tidak ada yang bertingkat. Seluruh bangunan rumah Lamin Mancong terbuat dari kayu, ada yang bilang dari kayu Ulin. Akan tetapi, ada juga yang menyebutkan jika kayu yang digunakan rumah Lamin saat ini tidak murni terbuat dari kayu Ulin.

Saat ini, rumah Lamin hanya digunakan saat ada acara adat ataupun sebagai destinasi wisata. Tidak ada lagi warga yang mendiami Rumah Lamin.

Hijaunya pemandangan terhampar saat Anda sampai di bagian atas Lamin. Pemandangan lain yang tak kalah menarik adalah jalan setapak dari kayu ulin yang akan Anda lewati, mulai dari jalan masuk kampung hingga sampai di rumah Lamin.

Untuk berkunjung ke Lamin Mancong, Anda dapat melewati jalur darat atau sungai. Untuk menempuh jalur darat memerlukan waktu sekitar 5 jam dari Samarinda, Kaltim. Jika ingin merasakan suasana yang lebih seru dan menyatu dengan alam, Anda bisa coba dengan menyusuri Sungai Mahakam dari Samarinda ataupun Loajana dengan menumpang taksi air.

Setiba di Muara Muntai, Anda dapat melanjutkan perjalanan menggunakan ketinting ke Tanjung Isuy dengan melewati Danau Jempang. Untuk sampai di Kampung Mancong Anda memerlukan waktu 15-20 menit dari Tanjung Isuy menggunakan jalur darat.



Sumber : http://travel.detik.com/read/2012/07/04/211135/1957913/1025/5/pesona-dan-cerita-di-balik-rumah-adat-suku-dayak#topart

Tahukah Kamu?
Hanya 3 malaikat, Gabriel, Michael dan Lucifer yang disebut dalam injil
Itulah berita untuk 'Pesona dan Cerita di Balik Rumah Adat Suku Dayak', semoga bermanfaat dan bisa menjadi inspirasi buat kamu.
komentar | | Read More...

Sejarah Hari Ini

Diberdayakan oleh Blogger.
 
Design Template by Mas Kentir | Support by creating website | Powered by Blogger